MAKALAH
Administrasi Pendidikan Tentang Pengawasan Pendidikan
Dosen Pembimbing
Bpk Jamaluddin
Disusun oleh:
Moh. Hozaini wahid
Siti Aisyah
TAHUN AJARAN
2014-2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di Indonesia maka paradigma
tenaga kependidikan sudah seharusnya mengalami perubahan pula, khususnya yang
berkaitan dengan supervisi atau kepengawasan pendidikan ini. Pengawasan seperti
ini sering disebut inspeksi atau memeriksa, orang yang melakukan pemeriksaan
itu sendiri disebut inspektur.
Supervisi
pendidikan atau yang lebih dikenal dengan pengawasan pendidikan memiliki konsep
dasar yang saling berhubungan. Dalam perkembangannya supervisi pendidikan
memberikan pengaruh yang baik pada perkembangan pendidikan di Indonesia
sehingga para pendidik memiliki kemampuan mendidik yang kreatif, aktif, efektif
dan inovatif.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Seberapa
pentingkah pengawasan dalam endidikan?
2.
Bagaimana
pengaruh pengawasan terhadap pendidikan?
3.
Bagaimana
pengaplikasian pengawasan pendidikan agar pendidikan bisa lebih efektif?
C.
Tujuan
Makalah
1.
Mengeti
pentingnya pengawasan dalam pendidikan.
2.
Mengetahui
pengaruh pengawasan terhadap pendidikan.
3.
Dapat
mengaplikasikan pengawasan dalam menunjang keektifitasan pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Supervisi
Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris
“ Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan
supervisi disebut supervisor.
Arti Supervisi secara etimologi, bentuk perkataannya (morfologi),
maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu (semantik).
Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris,
yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat,
pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan
oleh atasan – orang yang berposisi diatas, pimpinan terhadap hal-hal yang ada
dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih
human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih
banyak mengandung unsur pembinaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang
disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata kesalahannya)
untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
Secara sematik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa
bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi.
Menurut N.A Ametembun merumuskan bahwa supervise pendidikan adalah
pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan.
Menurut Murdick pengawasan merupakan proses dasar yang secara
esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya sesuatu organisasi.
Isu-isu muncul dalam proses pembangunan di negera kita seperti korupsi,
pemborosan penggunaan sumber-sumber, menurunnya displin dan komitmen para
pekerja dan kasus-kasus lainnya semakin memperkuat alasan pentingnya pengawasan
yang efektif dalam manajemen.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada hakekatnya supervise pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan
professional dari atasan kepada bawahan.[1]
B.
Tujuan
Supervisi
Supervisi yang baik akan menghasilkan pola kinerja yang baik, jika
supervisi dilakukan dengan cara dan metode yang benar, tentu ini menuntut
pengetahuan yang benar pula bagi para supervisor dalam melaksanakan tugasnya.
a.
Tujuan
Umum Supervisi pendidikan
Agar tercapai perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada
umumnya dan peningkatan mutu mengajar pada khususnya.
b.
Tujuan
Khusus Supervisi Pendidikan
Meliputi :
1.
Membantu
guru-guru untuk lebih memahami tujuan yang sebenarnya dari pendidikan dan
perencanaan sekolah dalam usaha mencapai tujuannya.
2.
Membantu
guru-guru untuk dapat lebih menyadari dan memahami kebutuhan- kebutuhan dan
kesulitan-kesulitan murid dan menolong mereka untuk mengatasinya.
3.
Memperbesar
kesanggupan guru-guru untuk memperlengkapi dan mempersiapkan murid-muridnya
menjadi anggota masyrakat yang efektif.
4.
Membantu
guru-guru mengadakan diagnose secara kritis aktivitas-aktivitasnya, serta
kesulitan-kesulitan mengajar dan belajar murid-muridnya, dan menolong mereka
merencanakan perbaikan.
5.
Membantu
guru-guru untuk dapat menilai aktivitas-aktivasnya dalam rangka tujuan
perkembangan anak didiknya.
6.
Memperbesar
kesadaran guru-guru terhadap tata kerja yang demokratis dan guru dapat
mempelajari bersama catatan-catatan tentang kemajuan murid guna menilai
keefektivan program yang disusun.
7.
Memperbesar
ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara maksimal dalam bidang
profesi (keahlianya).
8.
Membantu
guru-guru untuk dapat lebih memamfaatkan pengalaman-pengalamannya sendiri.
9.
Membantu
untuk lebih mempopulerkan sekolah kepada masyarkat agar bertambah simpati dan
kesediaan masyarakat untuk menyokong sekolah.
10.
Memperkenalkan
guru-guru atau karyawan baru kepada situasi sekolah profesinya.
11.
Melindungi
guru-guru dan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan yang tak wajar dan
kritik-kritik yang tak sehat dari masyarkat.
12.
Mengembangkan
“profesionalisme esprit e corps” guru-guru.
C.
Tipe-Tipe
Supervisi
Burton dan Brueckner (Purwanto, 2009: 79)
mengemukakan adanya lima tipe supervisi:
a.
Supervisi
Sebagai Inspeksi
Dalam administrasi dan kepemimpinan otokratis, supervisi berarti
inspeksi. Inspeksi bukanlah suatu pengawasan yang berusaha menolong guru untuk
mengembangkan dan memperbaiki cara dan daya kerja sebagai pembimbing dan
pengajar. Inspeksi dijalankan terutama dimaksud untuk meneliti/mengawasi apakah
guru atau bawahan menjalankan apa-apa yang telah diinstruksikan dan ditentukan
oleh atasan atau tidak, sampai dimana guru-guru atau bawahan menjalankan
tugas-tugas yang telah diberikan atau ditentukan atasannya. Jadi, inspeksi
berarti kegiatan-kegiatan mencari kesalahan. Inilah ciri-ciri kepengawasan yang
khas yang berlaku pada zaman kolonial dulu. Inspeksi merupakan tipe
kepengawasan otokratis.
b.
Laissez
Faire
Kepengawasan yang bertipe Laissez Faire sesungguhnya
kepengawasan yang sama sekali tidak konstruktif. Kepengawasan ini membiarkan
guru-gura atau bawahan bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk dan
bimbingan. Guru-guru boleh menjalankan tugasnya menurut apa yang mereka sukai,
boleh mengajar apa yang mereka ingini dan dengan cara yang mereka hendaki
masing-masing.
c.
Coercive
Supervision
Tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi, tipe ini bersifat
pemaksaan kehendak/ otoriter, segala sesuatu yang dianggap baik oleh pengawas
harus diikuti. Namun untuk pelaksanaan hal-hal yang bersifat awal, seperti
untuk guru-guru yang baru mulai belajar mengajar tipe ini cukup baik.
d.
Training
and Guidance (sebagai latihan dan bimbingan)
Pada tipe ini, supervisor bertugas memberikan bimbingan dan
pelatihan pada bawahan mengenai pelaksanaan kegiatan. Tipe ini lebih baik dari
tipe kepengawasan terdahulu terutama untuk guru-guru yang baru mulai mengajar
setelah keluar dari sekolah keguruan. Namun, kelemahannya adalah terkadang
pemberian petunjuk dan bimbingan bersifat kolot dan cenderung statis. Sudah
tidak sesuai lagi dengan perkembangan pendidikan dan tuntutan zaman sehingga
dapat terjadi kontradiksi antara pengetahuan yang telah diperoleh guru dengan
supervisor itu sendiri. Dan bisa juga sebaliknya, pendapat supervisor bisa juga
lebih maju, sedangkan pengetahuan yang diperoleh guru-guru dari sekolah guru
masih bersifat konservatif.
e.
Kepengawasan
yang Demokratis
Seperti namanya, tipe ini bersifat demokratis juga dalam
pelaksanaan supervisi. Pada tipe ini juga berlaku sistem pendistribusian dan
pendelegasian. Dalam hal melakukan supervisi tidak lagi menjadi tugas seorang
supervisor sendiri, melainkan pekerjaan-pekerjaan bersama yang dikoordinasikan.[2]
D.
Prinsip-Prinsip
Supervisi
a.
Prinsip
ilmiah
Mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Kegiatan
supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan
pelaksanaan proses belajar mengajar
2.
Untuk
memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti angket, observasi,
percakapan pribadi, dst.
3.
Setiap
kegiatan supervisi dilaksanakn secara sistematis, berencana dan kontinu.
b.
Prinsip
demokratis
Service dan bantuan yang diberikam kepada guru berdasarkan hubungan
kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk
mengembangkan tugasnya.
Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan
martabat guru, bukan berdasarkan atasan atau bawahan tapi berdasarkan
kesejawatan.
c.
Prinsip
kerjasama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi sharing
of idea, sharing of experience, member support, mendorong, menstimulasi guru,
sehingga mereka merasa bersama.
d.
Prinsip
konstruktif dan edukatif
Setiap guru akan termotifasi dalam mengembangkan potensi
kreatifitas kalau supervise mampu menciptakan suasana kerja yag menyenangkan,
bukan melalui cara-cara menakutkan.[3]
E.
Fungsi
Supervisi
Purwanto mengemukakan fungsi-fungsi supervisi pendidikan
yang sangat penting diketahui oleh para pemimpin pendidikan termasuk kepala
sekolah, adalah sebagai berikut:
a.
Dalam
bidang kepemimpinan
1.
Menyusun
rencana dan polisi bersama.
2.
Mengikutesertakan
anggota-anggota kelompok (guru-guru, pegawai-pegawai) dalam berbagai kegiatan.
b.
Dalam
hubungan kemanusiaan
1.
Memupuk
rasa saling menghargai dan mengormati diantara sesama anggota kelompok dan
sesama manusia.
2.
Menghilangkan
rasa curiga mencurigai antara anggota kelompok.
c.
Dalam
pembinaan proses kelompok
1.
Mengenal
masing-masing pribaadi anggota kelompok baik kelemahan maupun kemampuan
masing-masing kelompok.
2.
Memupuk
sikap dan kesediaan tolong menolong.
d.
Dalam
bidang administrasi personel
1.
Memailih
personel yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu
pekerjaan.
2.
Menempatkan
personel pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan
masing-masing.
e.
Dalam
bidang evaluasi
1.
Menguasai
dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
2.
Menguasai
dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai
kriteria penilaian.
Swearingen memberikan 8 fungsi supervisi sebagai berikut:
1.
Mengkoordinir
semua usaha sekolah.
2.
Memperlengkapi
kepemimpinan sekolah.
3.
Memperluas
pengalaman guru-guru.
4.
Menstimulir
usaha-usaha yang kreatif.
5.
Memberikan
fasilitas dan penilaian yang terus menerus.
6.
Menganalisis
situasi belajar dan mengajar.
7.
Memberikan
pengetahuan/skill kepada setiap anggota.
8.
Membantu
meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.
F.
Tehnik
Supervisi
Untuk mempermudah kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan supervisi
diperlukan teknik-teknik supervisi. Para ahli berbeda-beda dalam merumuskan
tahapan teknik-teknik supervisi akan tetapi pada dasarnya tetap sama. Secara
garis besar teknik supervisi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
a.
Teknik
perseorangan
Yang dimaksud teknik persorangan ialah supervisi yang dilakukan
secara perseorangan, beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:
1.
Mengadakan
kunjungan kelas (classroom visitation), Kepala sekolah datang ke kelas untuk
mengobservasi bagaimana guru mengajar. Dengan kata lain, untuk melihat apa
kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki.
2.
Mengadakan
kunjungan observasi (observation visits), Guru-guru ditugaskan untuk mengamati
seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran
tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan
mengadakan kunjungan ke sekolah lain.
3.
Membimbing
guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa atau mengatasi problema yang
dialami siswa.
4.
Membimbing
guru dalam hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah, antara
lain: menyusun program semester, membuat program satuan pelajaran,
mengorganisasi kegiatan pengelolaan kelas, melaksanakan teknik-teknik evaluasi
pembelajaran, menggunakan media dan sumber dalam proses belajar mengajar, dan
mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler.
b.
Teknik
kelompok
Teknik kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok,
beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
1.
Mengadakan
pertemuan atau rapat (meeting), Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya
berdasarkan rencana yang telah disusun. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara
periodik dengan guru-guru, dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka
kegiatan supervisi.
2.
Mengadakan
diskusi kelompok (group discussions), Diskusi kelompok dapat diadakan dengan
membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam setiap diskusi,
supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan, bimbingan,
nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan.
3.
Mengadakan
penataran-penataran (inservice-training), Teknik ini dilakukan melalui
penataran-penataran, misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu.
Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah,
maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak
lanjut (follow-up) dari hasil penataran.
4.
Dengan
demikian teknik supervisi sangat penting untuk dikuasai oleh kepala sekolah,
tanpa penguasaan teknik dalam pelaksanaanya tidak akan berjalan baik. Dengan
demikian seorang kepala sekolah tidak akan efektif kegiatan supervisinya
sebelum menguasai teknik dalam bidang supervisi. Teknik supervisi akan lebih
memudahkan pencapaian sasaran-sasaran dari tujuan yang telah ditetapkan, oleh
sebab itu penerapan teknik dari supervisi merupakan wujud dari kemajuan sekolah
untuk berkembang.
c.
Syarat-Syarat
Seorang Supervisor
Sebagai seorang
supervisor, tugas dan tanggungjawabnya hendaknya mempunyai
persyaratan-persyaratan idil. Dilihat dari segi kepribadiannya (personality)
syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Ia
harus mempunyai rasa perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat ,enilai
orang lain secara teliti dari segi kemanusiaanya serta dapat bergaul dengan
baik
2.
Ia
harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh semua kepercayaan
yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungannya.
3.
Ia
harus berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengaharapkan yang baik
dan melihat segi-segi yang baik.
4.
Hendaknya
bersifat adil dan jujur, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh
penyimpangan-penyimpangan manusia.
5.
Hendaknya
ia cukup tegas dan obyektif (tidak memihak), sehingga guru-guru yang lemah
dalam stafnya “tidak hilang dalam bayangan” orang-orang yang kuat pribadinya.
Serta banyak lagi persyaratan lainnya.
d.
Ciri-ciri
seorang supervisor yang baik
Seorang supervisor hendaknya memiliki ciri-ciri pribadi sebagai
guru yang baik, memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi, pandangan luas
mengenai proses pendidikan dalam masyarakat, kepribadian yang menyenangkan dan
kecakapan melaksanakan human relation yang baik.
Thomkins dan Backley menyatakan kualitas pentingnya
bagi seorang supervisor sebagai berikut:
1.
Memiliki
intuisi yang tinggi.
2.
Kerendahan
hati.
3.
Keramah-tamahan.
4.
Ketekunan,
sifat humor.
5.
Kesabaran
dan sebagainya.[4]
G.
Metode
supervisi
a.
Metode
langsung (Alat yang digunakan mengenai sasaran supervise).
b.
Metode
tak langsung (Mempergunakan berbagai alat perantara).
Metode Yang Lain:
1.
Kunjungan
sekolah (school visit) Akan memberikan pengatahuan yang lengkap tentang situasi
sekolah sehingga program akan lebih efektif.
2.
Kunjungan
kelas (class visit) Merupakan suatu metode supervise yang “to the point” kena
sasaran
3.
Pertemuan
individual Setelah suatu kunjungan berakhir, hendaklah diadakan pembicaraan
langsung dan pribadi tentang hasil kunjungan dengan orang yang dikunjungi.
4.
Rapat
sekolah Untuk membicarakan kepentingan murid dan sekolah dan hal-hal yang
berhubungan dengan sekolah
5.
Pendidikan
in service Untuk kepentingan mutu mrngajar dan belajar, maka guru perlu
mengembangkan pengetahuan sesuai dengan profesinya dengan berbagai cara.
Misalnya : study individual, study grops, menghadiri ceramah, mengadakan
intervisitasi dsb.
6.
Workshop
(musyawarah kerja/muker) Untuk mengembangkan professional karyawan (in-service)
7.
Intensivitas
Saling kunjung-memgunjungi sesama guru untuk mengobservasi situasi belajar
masing-masing
8.
Demonstrasi
mengajar Metode ini dapat dilakukan oleh supervisor sendiri atau oleh guru yang
ahli untuk memperkenalkan metode mengajar yang efektif.
9.
Bulletin
supervisi Bulletin berkala dapat dimanfaatkan untuk perbaikan program
pendidikan dan penngajaran, bisa mingguan atau bulanan.
10.
Bulletin
bord, Pengumuman administrative, Pengunguman supervise Pengunguman untuk murid
-dsb
11.
Kunjungan
rumah Tujuannya untuk mempelajari bagaimana situasi hidup orang yang
disupervisi di rumah terutama meneliti masalah-masalah yang secara langsung
atau tak langsung mempengaruhi tugas/kewajiban orang yang disupervisi itu.[5]
H.
Program
Supervisi
Suatu program supervisi pendidikan adalah rangkaian program
perbaikan pendidikan dan pengajaran.
a.
Perancanaan
Perancaan adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana,
mengapa, siapa, kapan dan dimana.
1)
Prinsip-prinsip
: kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu
2)
Syarat-syarat
:
1.
Tilikan
jelas tentang tujuan pendidikan
2.
Pengetahuan
tentang mengajar yang baik
3.
Pengetahuan
tentang pengalaman belajar murid
4.
Pengetahuan
tentang guru-guru
5.
Pengetahuan
tentang murid-murid
6.
Pengaetahuan
tentang masyarakat
7.
Pengetahuan
tentang sumber-sumber fisik
8.
Factor
biaya
9.
Factor
waktu
3)
Proses:
merumuskan what, why, how, who, when, where (apa, bagaimana, mengapa,
siapa, kapan dan dimana)
b.
Organisasi
Program
Langkah-langkah mengorganisir program :
1.
Persiapakan
suasana
2.
Pertimbangan
situasi
3.
Penyusunan
program
4.
Pembagian
tanggung jawab
5.
Perwujudan
program
6.
Pembinaan
perkembangan program
7.
Integrasikan
program dengan masyarakat
8.
Persiapan
program evaluasi
c.
Evaluasi
Evaluasi dalam hubungannya dengan pendidikan adalah menentukan
sampai dimana tujuan-tujuan pendidikan yang ditetapkan telah tercapai.
1)
Prinsip-prinsip
1.
Rencana
harus komprehensif
2.
Penyusunan
harus kooperatif
3.
Program
harus kontinu dan berinteraksi dengan kurikulum
4.
Lebih
menggunakan data yang objektif daripada yang subyektif
5.
Menghargai
para participant
2)
Proses
1.
Merumuskan
tujuan evaluasi
2.
Menyeleksi
alat-alat evaluasi
3.
Menyusun
alat-alat evaluasi
4.
Menerapkan
alat-alat evaluasi
5.
Mengelola
hasil
6.
Menyimpulkan
3)
Aspek-aspek
yang dievaluasi :
1.
Peronil
→ murid, guru, karyawan, wali murid, kepsek, supervise
2.
Materiil
→ kurikulum, perlengkapan sekolah, administrasi, perlengkapan murid
3.
Operational
→ proses kepemimpinan, proses mengajar, usaha kesejahtraan personil, usaha
integrasi sekolah dan masyarakat.
I.
Pelaksanaan
Supervisi
Cara Melaksanakan Supervisi:
Salah satu cara melakukan supervisi yang baik adalah dengan cara
demokratis, ciri-cirinya adalah:
a.
Pengawasan
dijalankan secara gotong-royong atau kooperatif, tidak ditangan seorang raja,
yaitu kepala sekolah
b.
Pengawasan
dijalankan terang-terangan, diketahui oleh semua petugas yaitu guru-guru, tidak
secara sembunyi-sembunyi seperti pengawasan polisi resersir.
c.
Pengawasan
dijalankan kontinu dan bersifat Tutwuri Handayani (bersifat pembimbing) seperti
dikehendaki oleh pemerintah kita.
Dalam melaksanakan supervisi pendidikan yang perlu dilakukan adalah
antara lain:
a.
Observasi
Kelas
Observasi kelas merupakan salah satu cara yang paling baik dlam
melaksanakan supervisi, karena dengan melaksanakan observasi kita dapat melihat
kegiatan guru, murid, dan masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar.
b.
Saling
Mengunjungi
Dalam pelaksanaan ini supervisi pendidikan dikaitkan dengan
kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya terdapat wadah dari sebuah kegiatan
untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan pembelajaran guru – guru
c.
Demonstrasi
Mengajar
Demonstrasi mengajar sangat diperlukan dalam pelaksanaan supervisi
karena demonstrasi mengajar sangat sukar untuk menentukan mana yang benar dalam
praktek mengajar.
d.
Supervisi
Klinis
Supervisi klinis salah satu aspek kajian dalam bidang supervisi
pengajaran yang banyak memberikan kontribusi dalam rangka pembimbingan,
pembinaan, dan pengembangan professional guru sehingga permasalahan apapun yang
muncul di bidang supervise pengajaran dapat ditangani dan diatasi secara
optimal.[6]
Ciri-ciri supervisi klinis seperti yang dikemukakan oleh Nurochmah
(2004) adalah sebagai berikut:
1.
Bimbingan
yang diberikan kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi
sehingga prakarsa dan tanggung jawab mengembangkan diri tetap ditangan guru
sendiri
2.
Meskipun
digunakan berbagai keterampilan mengajar secara terintegrasi, tetapi sasaran
supervise tetap dibatasi hanya pada satu atau dua keterampilan saja.
3.
Saran
supervise diajukan oleh guru, atau dikaji bersama untuk dijadikan kesepakatan
(kontrak)
4.
Instrument
observasi dikaji dan ditetapkan dalam pertemuan antara superfisor dengtan guru
dan pengembangannya didasarkan atas sasaran latihan.
5.
Balikan
yang objektif dan spesifik diberikan dengan segera.
6.
Analisis
dan interprestasi data hasil observasi dilakukan bersama, dimana supervisor
lebih banyak bertanya dari pada mengarahkan.
7.
Supervise
berlangsung dalam satu tatap muka yang terbuka dan intim.
8.
Supervisi
berlangsung dalam satu siklus : pertemuan awal (perencanaan), observasi, dan
pertemuan akhir. Kesimpulan dan tindak lanjut dari latihan sebelumnya akan
menjadi masukan untuk perencanaan latihan selantjutnya.
e.
Kajian
Tindak
Fokus utama kajian tindak adalah mendorong para prektisi untuk
meneliti dan terlibat dalam praktek penelitiannya sendiri. Hasil penelitiannya
dipake sendiri oleh peneliti dan orang lain yang membutuhkan.
J.
Jenis
Supervisi
Purwanto (2009), mengatakan bahwa untuk memperjelas pengertian dan
perbedaan jenis-jenis supervisi tersebut, marilah kita ikuti uraian berikut:
a.
Supervisi
umum dan supervisi pengajaran
Yang dimaksud dengan supervisi umum adalah supervisi yang
dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan atau pekerjaan yang secara tidak langsung
berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran. Seperti: supervisi terhadap
kegiatan pengelolaan bangunan dan perlengkapan sekolah atau kantor-kantor
pendidikan, supervisi terhadap kegiatan pengelolaan kegiatan administrasi
sekolah, supervisi terhadap pengelolaan keuangan sekolah, atau kantor
pendidikan dan sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan supervisi pengajaran
adalah kegiatan-kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki
kondisi-kondisi, baik personel maupun materil yang memungkinkan terciptanya
situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan.
b.
Supervsis
Klinis
Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran.
Dikatakan supervisi klinis karena prosedur pelaksanaanya lebih ditekankan
kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi di dalam proses belajar
mengajar, dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki
kelemahan atau kekurangan tersebut.
Menurut MADE PID (1992), supervisi klinis diberlakukan bagi
guru-guru yang sangat lemah dalam melaksanakan tugasnya. Untuk memperbaikinya
tidak cukup dilakukan satu atau dua kali supervise, melainkan di butuhkan serentetan
supervise untuk memperbaiki satu persatu kelemahannya.
Pelaksanaan supervise klinis menurut LA SULO (1987),mengemukakan
ciri-ciri supervisi sebagai berikut :
1.
Bimbingan
supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi
2.
Kesepakatan
antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan
yangpaling penting (diskusi guru dengan supervisor)
3.
Instrument
dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dengan supervisor.
4.
Guru
melakukan persiapan dengan aspek kelemahan-kelemahan yang akan diperbaiki.
5.
Pelaksanaannya
seperti dalam tekhnik observasi kelas.
6.
Balikan
diberikan dengan segera dan bersifat objektif.
7.
Guru
hendaknya dapat menganalisa penampilannya.
8.
Supervisor
lebih banyak bertanya dan mendengarkan dari pada memerintah atau mengarahkan.
9.
Supervisor
dan guru dalam keadaan suasana intim dan terbuka.
10.
Supervisi
dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampilan
pembelajaran.
c.
Pengawasan
Melekat dan Pengawasan Fungsional
Istilah kepengawasan melekat diturunkan dari bahasa
asing built in controle yaitu suatu pengawasan yang memang sudah
sendirinya (melekat) menjadi tugas dan tanggung jawab semua pimpinan, dari
pimpinan tingkat atas sampai dengan tingkatan yang paling bawah dari semua
organisasi atau lembaga. Dengan kata lain, semua orang yang menjadi pemimpin,
apapun tingkatannya, adalah sekaligus sebagai pengawas terhadap bawahannya
masing-masing. Oleh karena itu setiap pemimpin adalah juga sebagai pengawas,
maka kepengawasan yang dilakukan itu disebut “pengawas melekat”.
Tujuan pengawasan melekat adalah untuk mengetahui apakah
pimpinan unit kerja dapat menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian yang
melakat padanya dengan baik sehingga, bila ada penyelewengan, pemborosan,
korupsi, pimpinan unit kerja dapat mengambil tindakan korupsi sedini mungkin.
Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan fungsional” adalah
kegiatan-kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang yang fungsi
jabatannya sebagai pengawas.
K.
Sasaran
Supervisi
Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi
:
a.
Supervisi
Akademik : Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah
akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan
pembelajaran pada waktusiswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu
b.
Supervisi
Administrasi : Menitik beratkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek
administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya
pembelajaran.
c.
Supervisi
Lembaga : Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang
berada disekolah. Supervisi ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik
sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit
Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.[7]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu adalah pengetahuan manusia mengenai segala hal yang dapat
diindera oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, perasaan dan
keyakinan) melalui akal atau proses berfikir (logika). Ini adalah konsep umum
(barat) yang disebut (knowledge). Pengetahuan yang telah dirumuskan secara
sistematis merupakan formula yang disebut ilmu
pengetahuan (science). Dalam Al-Qur’an, keduanya disebut (ilmu).
Para sarjana muslim berpandangan bahwa yang dimaksud ilmu itu tidak terbatas
pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (sience) saja, melainkan justru diawali
oleh ilmu Allah yang dirumuskan dalam lauhil mahfudzh yang disampaikan kepada
kita melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ilmu Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang alam semesta dan
manusia sendiri. Bila diikuti jalan fikiran ini, maka dapatlah kita fahami
bahwa Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan manusia (Knowledge dan science).
Dengan membaca dan memahami Al-Qur’an, manusia pada hakekatnya akan memahami
ilmu Allah, yaitu firman-firman-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen MKPP.2008.Ikhtisar Bahan Perkuliahan.Tasik
Malaya:UPI Kampus tasik Malaya.
Atikah, Ikah.Eddy Sukmana.Ikhtisar Bahan Perkuliahan Observasi
Dan Mikro Tiching.UPI Tasik Malaya.
Maryono. 2011.Dasar-Dasar Dan Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan.
Yogyakarata: Ar-ruzz Media.
Nawawi,hadari. 1993.Administrasi Pendidikan.Jakarta: Haji
Mas Agung.
Sehartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam
Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2008, Rhineka Cipta, Jakarta.
[1]
Olivia, F. Peter. 1992. Supervision for Today’s school. New York & London:
Longman.hal 39.
[2] Sehartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi
Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2008, Rhineka Cipta,
Jakarta, hal 52.
[3] Tim Dosen MKPP.2008.Ikhtisar Bahan
Perkuliahan.Tasik Malaya:UPI Kampus tasik Malaya.hal 123.
[4] Atikah, Ikah.Eddy Sukmana.Ikhtisar Bahan
Perkuliahan Observasi Dan Mikro Tiching.UPI Tasik Malaya.hal 27-29.
[5] Nawawi,hadari. 1993.Administrasi
Pendidikan.Jakarta: Haji Mas Agung.hal 56.
[6] Maryono. 2011.Dasar-Dasar Dan Teknik
Menjadi Supervisor Pendidikan. Yogyakarata: Ar-ruzz Media.hal 87.
[7] Sehartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi
Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2008, Rhineka Cipta,
Jakarta. Hal 57.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar