Rabu, 25 Mei 2016

MAKALAH Administrasi Pendidikan Tentang Pengawasan Pendidikan

MAKALAH
Administrasi Pendidikan Tentang Pengawasan Pendidikan
Dosen Pembimbing
 Bpk Jamaluddin









Disusun oleh:
Moh. Hozaini wahid
Siti Aisyah



MAKALAH Administrasi Pendidikan Tentang Pengawasan Pendidikan
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAZHATUT THULLAB (STAINATA) SAMPANG-MADURA
TAHUN AJARAN

2014-2015






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di Indonesia maka paradigma tenaga kependidikan sudah seharusnya mengalami perubahan pula, khususnya yang berkaitan dengan supervisi atau kepengawasan pendidikan ini. Pengawasan seperti ini sering disebut inspeksi atau memeriksa, orang yang melakukan pemeriksaan itu sendiri disebut inspektur.
Supervisi pendidikan atau yang lebih dikenal dengan pengawasan pendidikan memiliki konsep dasar yang saling berhubungan. Dalam perkembangannya supervisi pendidikan memberikan pengaruh yang baik pada perkembangan pendidikan di Indonesia sehingga para pendidik memiliki kemampuan mendidik yang kreatif, aktif, efektif dan inovatif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Seberapa pentingkah pengawasan dalam endidikan?
2.      Bagaimana pengaruh pengawasan terhadap pendidikan?
3.      Bagaimana pengaplikasian pengawasan pendidikan agar pendidikan bisa lebih efektif?
C.     Tujuan Makalah
1.      Mengeti pentingnya pengawasan dalam pendidikan.
2.      Mengetahui pengaruh pengawasan terhadap pendidikan.
3.      Dapat mengaplikasikan pengawasan dalam menunjang keektifitasan pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Supervisi
Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.
Arti Supervisi secara etimologi, bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu (semantik).
Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision. Super berarti diatas dan vision berarti melihat, pemeriksaan dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan – orang yang berposisi diatas, pimpinan terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki.
Secara sematik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi.
Menurut N.A Ametembun merumuskan bahwa supervise pendidikan adalah pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan.
Menurut Murdick pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasnya sesuatu organisasi. Isu-isu muncul dalam proses pembangunan di negera kita seperti korupsi, pemborosan penggunaan sumber-sumber, menurunnya displin dan komitmen para pekerja dan kasus-kasus lainnya semakin memperkuat alasan pentingnya pengawasan yang efektif dalam manajemen.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakekatnya supervise pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan professional dari atasan kepada bawahan.[1]
B.     Tujuan Supervisi
Supervisi yang baik akan menghasilkan pola kinerja yang baik, jika supervisi dilakukan dengan cara dan metode yang benar, tentu ini menuntut pengetahuan yang benar pula bagi para supervisor dalam melaksanakan tugasnya.
a.           Tujuan Umum Supervisi pendidikan
Agar tercapai perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar pada khususnya.
b.         Tujuan Khusus Supervisi Pendidikan
Meliputi :
1.         Membantu guru-guru untuk lebih memahami tujuan yang sebenarnya dari pendidikan dan perencanaan sekolah dalam usaha mencapai tujuannya.
2.         Membantu guru-guru untuk dapat lebih menyadari dan memahami kebutuhan- kebutuhan dan kesulitan-kesulitan murid dan menolong mereka untuk mengatasinya.
3.         Memperbesar kesanggupan guru-guru untuk memperlengkapi dan mempersiapkan murid-muridnya menjadi anggota masyrakat yang efektif.
4.         Membantu guru-guru mengadakan diagnose secara kritis aktivitas-aktivitasnya, serta kesulitan-kesulitan mengajar dan belajar murid-muridnya, dan menolong mereka merencanakan perbaikan.
5.         Membantu guru-guru untuk dapat menilai aktivitas-aktivasnya dalam rangka tujuan perkembangan anak didiknya.
6.         Memperbesar kesadaran guru-guru terhadap tata kerja yang demokratis dan guru dapat mempelajari bersama catatan-catatan tentang kemajuan murid guna menilai keefektivan program yang disusun.
7.         Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara maksimal dalam bidang profesi (keahlianya).
8.         Membantu guru-guru untuk dapat lebih memamfaatkan pengalaman-pengalamannya sendiri.
9.         Membantu untuk lebih mempopulerkan sekolah kepada masyarkat agar bertambah simpati dan kesediaan masyarakat untuk menyokong sekolah.
10.     Memperkenalkan guru-guru atau karyawan baru kepada situasi sekolah profesinya.
11.     Melindungi guru-guru dan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan yang tak wajar dan kritik-kritik yang tak sehat dari masyarkat.
12.     Mengembangkan “profesionalisme esprit e corps” guru-guru.
C.       Tipe-Tipe Supervisi
Burton dan Brueckner (Purwanto, 2009: 79) mengemukakan adanya lima tipe supervisi:
a.         Supervisi Sebagai Inspeksi
Dalam administrasi dan kepemimpinan otokratis, supervisi berarti inspeksi. Inspeksi bukanlah suatu pengawasan yang berusaha menolong guru untuk mengembangkan dan memperbaiki cara dan daya kerja sebagai pembimbing dan pengajar. Inspeksi dijalankan terutama dimaksud untuk meneliti/mengawasi apakah guru atau bawahan menjalankan apa-apa yang telah diinstruksikan dan ditentukan oleh atasan atau tidak, sampai dimana guru-guru atau bawahan menjalankan tugas-tugas yang telah diberikan atau ditentukan atasannya. Jadi, inspeksi berarti kegiatan-kegiatan mencari kesalahan. Inilah ciri-ciri kepengawasan yang khas yang berlaku pada zaman kolonial dulu. Inspeksi merupakan tipe kepengawasan otokratis.
b.           Laissez Faire
Kepengawasan yang bertipe Laissez Faire sesungguhnya kepengawasan yang sama sekali tidak konstruktif. Kepengawasan ini membiarkan guru-gura atau bawahan bekerja sekehendaknya tanpa diberi petunjuk dan bimbingan. Guru-guru boleh menjalankan tugasnya menurut apa yang mereka sukai, boleh mengajar apa yang mereka ingini dan dengan cara yang mereka hendaki masing-masing.
c.           Coercive Supervision
Tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi, tipe ini bersifat pemaksaan kehendak/ otoriter, segala sesuatu yang dianggap baik oleh pengawas harus diikuti. Namun untuk pelaksanaan hal-hal yang bersifat awal, seperti untuk guru-guru yang baru mulai belajar mengajar tipe ini cukup baik.
d.          Training and Guidance (sebagai latihan dan bimbingan)
Pada tipe ini, supervisor bertugas memberikan bimbingan dan pelatihan pada bawahan mengenai pelaksanaan kegiatan. Tipe ini lebih baik dari tipe kepengawasan terdahulu terutama untuk guru-guru yang baru mulai mengajar setelah keluar dari sekolah keguruan. Namun, kelemahannya adalah terkadang pemberian petunjuk dan bimbingan bersifat kolot dan cenderung statis. Sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan pendidikan dan tuntutan zaman sehingga dapat terjadi kontradiksi antara pengetahuan yang telah diperoleh guru dengan supervisor itu sendiri. Dan bisa juga sebaliknya, pendapat supervisor bisa juga lebih maju, sedangkan pengetahuan yang diperoleh guru-guru dari sekolah guru masih bersifat konservatif.
e.           Kepengawasan yang Demokratis
Seperti namanya, tipe ini bersifat demokratis juga dalam pelaksanaan supervisi. Pada tipe ini juga berlaku sistem pendistribusian dan pendelegasian. Dalam hal melakukan supervisi tidak lagi menjadi tugas seorang supervisor sendiri, melainkan pekerjaan-pekerjaan bersama yang dikoordinasikan.[2]
D.    Prinsip-Prinsip Supervisi
a.           Prinsip ilmiah
Mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar mengajar
2.      Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data, seperti angket, observasi, percakapan pribadi, dst.
3.      Setiap kegiatan supervisi dilaksanakn secara sistematis, berencana dan kontinu.
b.           Prinsip demokratis
Service dan bantuan yang diberikam kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.
Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atasan atau bawahan tapi berdasarkan kesejawatan.
c.           Prinsip kerjasama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi sharing of idea, sharing of experience, member support, mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa bersama.
d.          Prinsip konstruktif dan edukatif
Setiap guru akan termotifasi dalam mengembangkan potensi kreatifitas kalau supervise mampu menciptakan suasana kerja yag menyenangkan, bukan melalui cara-cara menakutkan.[3]
E.     Fungsi Supervisi
Purwanto mengemukakan fungsi-fungsi  supervisi pendidikan yang sangat penting diketahui oleh para pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
a.           Dalam bidang kepemimpinan
1.            Menyusun rencana dan polisi bersama.
2.            Mengikutesertakan anggota-anggota kelompok (guru-guru, pegawai-pegawai) dalam berbagai kegiatan.
b.           Dalam hubungan kemanusiaan
1.            Memupuk rasa saling menghargai dan mengormati diantara sesama anggota kelompok dan sesama manusia.
2.            Menghilangkan rasa curiga mencurigai antara anggota kelompok.
c.           Dalam pembinaan proses kelompok
1.            Mengenal masing-masing pribaadi anggota kelompok baik kelemahan maupun kemampuan masing-masing kelompok.
2.            Memupuk sikap dan kesediaan tolong menolong.
d.          Dalam bidang administrasi personel
1.                  Memailih personel yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
2.                 Menempatkan personel pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
e.           Dalam bidang evaluasi
1.            Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
2.            Menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriteria penilaian.
Swearingen memberikan 8 fungsi supervisi sebagai berikut:
1.      Mengkoordinir semua usaha sekolah.
2.      Memperlengkapi kepemimpinan sekolah.
3.      Memperluas pengalaman guru-guru.
4.      Menstimulir usaha-usaha yang kreatif.
5.      Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus.
6.      Menganalisis situasi belajar dan mengajar.
7.      Memberikan pengetahuan/skill kepada setiap anggota.
8.      Membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.
F.      Tehnik Supervisi
Untuk mempermudah kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan supervisi diperlukan teknik-teknik supervisi. Para ahli berbeda-beda dalam merumuskan tahapan teknik-teknik supervisi akan tetapi pada dasarnya tetap sama. Secara garis besar teknik supervisi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:
a.           Teknik perseorangan
Yang dimaksud teknik persorangan ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan, beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:
1.        Mengadakan kunjungan kelas (classroom visitation), Kepala sekolah datang ke kelas untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar. Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekirannya perlu diperbaiki.
2.        Mengadakan kunjungan observasi (observation visits), Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain.
3.        Membimbing guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa atau mengatasi problema yang dialami siswa.
4.        Membimbing guru dalam hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah, antara lain: menyusun program semester, membuat program satuan pelajaran, mengorganisasi kegiatan pengelolaan kelas, melaksanakan teknik-teknik evaluasi pembelajaran, menggunakan media dan sumber dalam proses belajar mengajar, dan mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler.
b.           Teknik kelompok
Teknik kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok, beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
1.             Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting), Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru, dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi.
2.             Mengadakan diskusi kelompok (group discussions), Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam setiap diskusi, supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan, bimbingan, nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan.
3.             Mengadakan penataran-penataran (inservice-training), Teknik ini dilakukan melalui penataran-penataran, misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu. Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran.
4.             Dengan demikian teknik supervisi sangat penting untuk dikuasai oleh kepala sekolah, tanpa penguasaan teknik dalam pelaksanaanya tidak akan berjalan baik. Dengan demikian seorang kepala sekolah tidak akan efektif kegiatan supervisinya sebelum menguasai teknik dalam bidang supervisi. Teknik supervisi akan lebih memudahkan pencapaian sasaran-sasaran dari tujuan yang telah ditetapkan, oleh sebab itu penerapan teknik dari supervisi merupakan wujud dari kemajuan sekolah untuk berkembang.
c.           Syarat-Syarat Seorang Supervisor
Sebagai seorang supervisor, tugas dan tanggungjawabnya hendaknya mempunyai persyaratan-persyaratan idil. Dilihat dari segi kepribadiannya (personality) syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1.        Ia harus mempunyai rasa perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat ,enilai orang lain secara teliti dari segi kemanusiaanya serta dapat bergaul dengan baik
2.        Ia harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh semua kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungannya.
3.        Ia harus berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengaharapkan yang baik dan melihat segi-segi yang baik.
4.        Hendaknya bersifat adil dan jujur, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
5.        Hendaknya ia cukup tegas dan obyektif (tidak memihak), sehingga guru-guru yang lemah dalam stafnya “tidak hilang dalam bayangan” orang-orang yang kuat pribadinya. Serta banyak lagi persyaratan lainnya.
d.          Ciri-ciri seorang supervisor yang baik
Seorang supervisor hendaknya memiliki ciri-ciri pribadi sebagai guru yang baik, memiliki pembawaan kecerdasan yang tinggi, pandangan luas mengenai proses pendidikan dalam masyarakat, kepribadian yang menyenangkan  dan kecakapan melaksanakan human relation yang baik.
Thomkins dan Backley menyatakan kualitas pentingnya bagi seorang supervisor sebagai berikut:
1.         Memiliki intuisi yang tinggi.
2.         Kerendahan hati.
3.         Keramah-tamahan.
4.         Ketekunan, sifat humor.
5.         Kesabaran dan sebagainya.[4]
G.    Metode supervisi
a.           Metode langsung (Alat yang digunakan mengenai sasaran supervise).
b.           Metode tak langsung (Mempergunakan berbagai alat perantara).
Metode Yang Lain:
1.        Kunjungan sekolah (school visit) Akan memberikan pengatahuan yang lengkap tentang situasi sekolah sehingga program akan lebih efektif.
2.        Kunjungan kelas (class visit) Merupakan suatu metode supervise yang “to the point” kena sasaran
3.        Pertemuan individual Setelah suatu kunjungan berakhir, hendaklah diadakan pembicaraan langsung dan pribadi tentang hasil kunjungan dengan orang yang dikunjungi.
4.        Rapat sekolah Untuk membicarakan kepentingan murid dan sekolah dan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah
5.        Pendidikan in service Untuk kepentingan mutu mrngajar dan belajar, maka guru perlu mengembangkan pengetahuan sesuai dengan profesinya dengan berbagai cara. Misalnya : study individual, study grops, menghadiri ceramah, mengadakan intervisitasi dsb.
6.        Workshop (musyawarah kerja/muker) Untuk mengembangkan professional karyawan (in-service)
7.        Intensivitas Saling kunjung-memgunjungi sesama guru untuk mengobservasi situasi belajar masing-masing
8.        Demonstrasi mengajar Metode ini dapat dilakukan oleh supervisor sendiri atau oleh guru yang ahli untuk memperkenalkan metode mengajar yang efektif.
9.        Bulletin supervisi Bulletin berkala dapat dimanfaatkan untuk perbaikan program pendidikan dan penngajaran, bisa mingguan atau bulanan.
10.    Bulletin bord, Pengumuman administrative, Pengunguman supervise Pengunguman untuk murid -dsb
11.    Kunjungan rumah Tujuannya untuk mempelajari bagaimana situasi hidup orang yang disupervisi di rumah terutama meneliti masalah-masalah yang secara langsung atau tak langsung mempengaruhi tugas/kewajiban orang yang disupervisi itu.[5]

H.    Program Supervisi
Suatu program supervisi pendidikan adalah rangkaian program perbaikan pendidikan dan pengajaran.
a.           Perancanaan
Perancaan adalah pemikiran dan perumusan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, kapan dan dimana.
1)            Prinsip-prinsip : kooperatif, kreatif, komprehensif, flexible, kontinu
2)            Syarat-syarat :
1.      Tilikan jelas tentang tujuan pendidikan
2.      Pengetahuan tentang mengajar yang baik
3.      Pengetahuan tentang pengalaman belajar murid
4.      Pengetahuan tentang guru-guru
5.      Pengetahuan tentang murid-murid
6.      Pengaetahuan tentang masyarakat
7.      Pengetahuan tentang sumber-sumber fisik
8.      Factor biaya
9.      Factor waktu
3)            Proses: merumuskan what, why, how, who, when, where (apa, bagaimana, mengapa, siapa,  kapan dan dimana)
b.           Organisasi Program
Langkah-langkah mengorganisir program :
1.      Persiapakan suasana
2.      Pertimbangan situasi
3.      Penyusunan program
4.      Pembagian tanggung jawab
5.      Perwujudan program
6.      Pembinaan perkembangan program
7.      Integrasikan program dengan masyarakat
8.      Persiapan program evaluasi
c.           Evaluasi
Evaluasi dalam hubungannya dengan pendidikan adalah menentukan sampai dimana tujuan-tujuan pendidikan yang ditetapkan telah tercapai.
1)            Prinsip-prinsip
1.    Rencana harus komprehensif
2.    Penyusunan harus kooperatif
3.    Program harus kontinu dan berinteraksi dengan kurikulum
4.    Lebih menggunakan data yang objektif daripada yang subyektif
5.    Menghargai para participant
2)            Proses
1.    Merumuskan tujuan evaluasi
2.    Menyeleksi alat-alat evaluasi
3.    Menyusun alat-alat evaluasi
4.    Menerapkan alat-alat evaluasi
5.    Mengelola hasil
6.    Menyimpulkan
3)            Aspek-aspek yang dievaluasi :
1.    Peronil → murid, guru, karyawan, wali murid, kepsek, supervise
2.    Materiil → kurikulum, perlengkapan sekolah, administrasi, perlengkapan murid
3.    Operational → proses kepemimpinan, proses mengajar, usaha kesejahtraan personil, usaha integrasi sekolah dan masyarakat.
I.       Pelaksanaan Supervisi
Cara Melaksanakan Supervisi:
Salah satu cara melakukan supervisi yang baik adalah dengan cara demokratis, ciri-cirinya adalah:
a.         Pengawasan dijalankan secara gotong-royong atau kooperatif, tidak ditangan seorang raja, yaitu kepala sekolah
b.        Pengawasan dijalankan terang-terangan, diketahui oleh semua petugas yaitu guru-guru, tidak secara sembunyi-sembunyi seperti pengawasan polisi resersir.
c.         Pengawasan dijalankan kontinu dan bersifat Tutwuri Handayani (bersifat pembimbing) seperti dikehendaki oleh pemerintah kita.
Dalam melaksanakan supervisi pendidikan yang perlu dilakukan adalah antara lain:
a.           Observasi Kelas
Observasi kelas merupakan salah satu cara yang paling baik dlam melaksanakan supervisi, karena dengan melaksanakan observasi kita dapat melihat kegiatan guru, murid, dan masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar.
b.           Saling Mengunjungi
Dalam pelaksanaan ini supervisi pendidikan dikaitkan dengan kegiatan belajar mengajar yang di dalamnya terdapat wadah dari sebuah kegiatan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan pembelajaran guru – guru
c.           Demonstrasi Mengajar
Demonstrasi mengajar sangat diperlukan dalam pelaksanaan supervisi karena demonstrasi mengajar sangat sukar untuk menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar.
d.          Supervisi Klinis
Supervisi klinis salah satu aspek kajian dalam bidang supervisi pengajaran yang banyak memberikan kontribusi dalam rangka pembimbingan, pembinaan, dan pengembangan professional guru sehingga permasalahan apapun yang muncul di bidang supervise pengajaran dapat ditangani dan diatasi secara optimal.[6]
Ciri-ciri supervisi klinis seperti yang dikemukakan oleh Nurochmah (2004) adalah sebagai berikut:
1.             Bimbingan yang diberikan kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi sehingga prakarsa dan tanggung jawab mengembangkan diri tetap ditangan guru sendiri
2.             Meskipun digunakan berbagai keterampilan mengajar secara terintegrasi, tetapi sasaran supervise tetap dibatasi hanya pada satu atau dua keterampilan saja.
3.             Saran supervise diajukan oleh guru, atau dikaji bersama untuk dijadikan kesepakatan (kontrak)
4.             Instrument observasi dikaji dan ditetapkan dalam pertemuan antara superfisor dengtan guru dan pengembangannya didasarkan atas sasaran latihan.
5.             Balikan yang objektif dan spesifik diberikan dengan segera.
6.             Analisis dan interprestasi data hasil observasi dilakukan bersama, dimana supervisor lebih banyak bertanya dari pada mengarahkan.
7.             Supervise berlangsung dalam satu tatap muka yang terbuka dan intim.
8.             Supervisi berlangsung dalam satu siklus : pertemuan awal (perencanaan), observasi, dan pertemuan akhir. Kesimpulan dan tindak lanjut dari latihan sebelumnya akan menjadi masukan untuk perencanaan latihan selantjutnya.
e.           Kajian Tindak
Fokus utama kajian tindak adalah mendorong para prektisi untuk meneliti dan terlibat dalam praktek penelitiannya sendiri. Hasil penelitiannya dipake sendiri oleh peneliti dan orang lain yang membutuhkan.
J.       Jenis Supervisi
Purwanto (2009), mengatakan bahwa untuk memperjelas pengertian dan perbedaan jenis-jenis supervisi tersebut, marilah kita ikuti uraian berikut:
a.           Supervisi umum dan supervisi pengajaran
Yang dimaksud dengan supervisi umum adalah supervisi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan atau pekerjaan yang secara tidak langsung berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran. Seperti: supervisi terhadap kegiatan pengelolaan bangunan dan perlengkapan sekolah atau kantor-kantor pendidikan, supervisi terhadap kegiatan pengelolaan kegiatan administrasi sekolah, supervisi terhadap pengelolaan keuangan sekolah, atau kantor pendidikan dan sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan supervisi pengajaran adalah kegiatan-kegiatan kepengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi, baik personel maupun materil yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan.
b.           Supervsis Klinis
Supervisi klinis termasuk bagian dari supervisi pengajaran. Dikatakan supervisi klinis karena prosedur pelaksanaanya lebih ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi di dalam proses belajar mengajar, dan kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut.
Menurut MADE PID (1992), supervisi klinis diberlakukan bagi guru-guru yang sangat lemah dalam melaksanakan tugasnya. Untuk memperbaikinya tidak cukup dilakukan satu atau dua kali supervise, melainkan di butuhkan serentetan supervise untuk memperbaiki satu persatu kelemahannya.
Pelaksanaan supervise klinis menurut LA SULO (1987),mengemukakan ciri-ciri supervisi sebagai berikut :
1.      Bimbingan supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi
2.      Kesepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan yangpaling penting (diskusi guru dengan supervisor)
3.      Instrument dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dengan supervisor.
4.      Guru melakukan persiapan dengan aspek kelemahan-kelemahan yang akan diperbaiki.
5.      Pelaksanaannya seperti dalam tekhnik  observasi kelas.
6.      Balikan diberikan dengan segera dan bersifat objektif.
7.      Guru hendaknya dapat menganalisa penampilannya.
8.      Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan dari pada memerintah atau mengarahkan.
9.      Supervisor dan guru dalam keadaan suasana intim dan terbuka.
10.  Supervisi dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampilan pembelajaran.
c.           Pengawasan Melekat dan Pengawasan Fungsional
Istilah kepengawasan melekat diturunkan dari bahasa asing built in controle yaitu suatu pengawasan yang memang sudah sendirinya (melekat) menjadi tugas dan tanggung jawab semua pimpinan, dari pimpinan tingkat atas sampai dengan tingkatan yang paling bawah dari semua organisasi atau lembaga. Dengan kata lain, semua orang yang menjadi pemimpin, apapun tingkatannya, adalah sekaligus sebagai pengawas terhadap bawahannya masing-masing. Oleh karena itu setiap pemimpin adalah juga sebagai pengawas, maka kepengawasan yang dilakukan itu disebut “pengawas melekat”.
Tujuan pengawasan melekat adalah untuk mengetahui apakah pimpinan unit kerja dapat menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian yang melakat padanya dengan baik sehingga, bila ada penyelewengan, pemborosan, korupsi, pimpinan unit kerja dapat mengambil tindakan korupsi sedini mungkin.
Sedangkan yang dimaksud dengan “pengawasan fungsional” adalah kegiatan-kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang yang fungsi jabatannya sebagai pengawas.
K.    Sasaran Supervisi
Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi :
a.           Supervisi Akademik : Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktusiswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu
b.           Supervisi Administrasi : Menitik beratkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.
c.         Supervisi Lembaga : Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada disekolah. Supervisi ini dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan lain-lain.[7]



  

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ilmu adalah pengetahuan manusia mengenai segala hal yang dapat diindera oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, perasaan dan keyakinan) melalui akal atau proses berfikir (logika). Ini adalah konsep umum (barat) yang disebut (knowledge). Pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis merupakan formula yang disebut ilmu pengetahuan  (science). Dalam Al-Qur’an, keduanya disebut (ilmu). Para sarjana muslim berpandangan bahwa yang dimaksud ilmu itu tidak terbatas pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (sience) saja, melainkan justru diawali oleh ilmu Allah yang dirumuskan dalam lauhil mahfudzh yang disampaikan kepada kita melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ilmu Allah itu melingkupi ilmu manusia tentang alam semesta dan manusia sendiri. Bila diikuti jalan fikiran ini, maka dapatlah kita fahami bahwa Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan manusia (Knowledge dan science). Dengan membaca dan memahami Al-Qur’an, manusia pada hakekatnya akan memahami ilmu Allah, yaitu firman-firman-Nya.









DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen MKPP.2008.Ikhtisar Bahan Perkuliahan.Tasik Malaya:UPI Kampus tasik Malaya.
Atikah, Ikah.Eddy Sukmana.Ikhtisar Bahan Perkuliahan Observasi Dan Mikro Tiching.UPI Tasik Malaya.
Maryono. 2011.Dasar-Dasar Dan Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan. Yogyakarata: Ar-ruzz Media.
Nawawi,hadari. 1993.Administrasi Pendidikan.Jakarta: Haji Mas Agung.
Sehartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2008, Rhineka Cipta, Jakarta.







[1] Olivia, F. Peter. 1992. Supervision for Today’s school. New York & London: Longman.hal 39.
[2] Sehartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2008, Rhineka Cipta, Jakarta, hal 52.
[3] Tim Dosen MKPP.2008.Ikhtisar Bahan Perkuliahan.Tasik Malaya:UPI Kampus tasik Malaya.hal 123.
[4] Atikah, Ikah.Eddy Sukmana.Ikhtisar Bahan Perkuliahan Observasi Dan Mikro Tiching.UPI Tasik Malaya.hal 27-29.
[5] Nawawi,hadari. 1993.Administrasi Pendidikan.Jakarta: Haji Mas Agung.hal 56.
[6] Maryono. 2011.Dasar-Dasar Dan Teknik Menjadi Supervisor Pendidikan. Yogyakarata: Ar-ruzz Media.hal 87.
[7] Sehartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, 2008, Rhineka Cipta, Jakarta. Hal 57.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar